Translate

Kamis, 07 Juni 2012

FILOLOGI DAN FOLKLOR



A.    FILOLOGI
Filologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani “philos” yang berarti “cinta” dan logos ” yang diartikan kata. Pada kata “filologi” kedua kata itu membentuk arti “cinta kata” atau “senang bertutur”. Arti ini kemudian berkembang menjadi “senang belajar” atau “senang kebudayaan”. Pengkajian filologi pun selanjutnya membatasi diri pada penelitian hasil kebudayaan masyarakat lama yang berupa tulisan dalam naskah (lazim disebut teks).
Filologi ialah suatu ilmu yang obyek penelitiannya naskah-naskah lama. Yang dimaksudkan dengan naskah di sini, ialah semua peninggalan tertulis nenek moyang kita pada kertas, lontar, kulit kayu, dan rotan. Tulisan tangan pada kertas itu biasanya dipakai pada naskah-naskah yang berbahasa Melayu dan yang berbahasa Jawa; lontar bnyak dipakai pada naskah-naskah berbahasa Jawa dan Bali dan kulit kayu dan rotan biasa digunakan pada naskah-naskah berbahasa Batak. Dalam bahasa Inggris naskah-naskah ini disebut “manuscript” dan dalam bahasa Belanda disebut dengan istilah “handschrift”. Hal ini perlu dijeaskan untuk membedakan peninggalan tertulis pada batu. Batu yang mempunyai tulisan itu biasa disebut piagam, batu bersurat, atau inskripsi. Dan ilmu dalam bidang tulisan batu itu disebut epigrafi.
Mengingat bahan naskah seperti di atas, jelaslah, bahwa naskah itu tidak dapat bertahan beratus-ratus tahun tanpa pemeliharaan yang cermat dan perawatan yang khusus. Pemeliharaan naskah agar tidak cepat rusak, antara lain : mengatur suhu udara tempat naskah itu disimpan, sehingga tidak cepat lapuk, melapisi kertas-kertas yang sudah lapuk dengan kertas yang khusus sehingga kuat kembali, dan menyemprot naskah-naskah itu dalam jangka waktu tertentu dengan bahan kimia yang dapat membunuh bubuk-bubuk yang memakan kertas itu.
Semua naskah itu dianggap sebagai hasil sastra lama dan isi naskah itu bermacam-macam. Ada yang sebetulnya tidak dapat digolongkan dalam karya sastra, seperti undang-undang, adat-istiadat, cara-cara membuat obat, dan cara membuat rumah. Sebagian besar dapat digolongkan dalam karya sastra, dalam pengertian khusus, seperti cerita-cerita dongeng, hikayat, cerita binatang, pantun, syair, gurindam, dsb. Ituah sebabnya pengertian filologi diidentikkan dengan sastra lama.


Filologi terbagi atas dua bagian yaitu sebagai berikut :
1.    Kodikologi
          Istilah kodikologi berasal dari kata Latin ‘codex’ (bentuk tunggal; bentuk jamak ‘codies’) yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi ‘naskah’–bukan menjadi ‘kodeks’. Sri Wulan Rujiati Mulyadi mengatakan kata ’caudex’ atau ‘codex’ dalam bahasa Latin menunjukkan hubungan pemanfaatan kayu sebagai alas tulis yang pada dasarnya kata itu berarti ‘teras batang pohon’. Kata ‘codex’ kemudian di berbagai bahasa dipakai untuk menunjukkan suatu karya klasik dalam bentuk naskah.
          kodikologi adalah satu bidang ilmu yang biasanya bekerja bareng dengan bidang ilmu ini. Kalau filologi mengkhususkan pada pemahaman isi teks/kandungan teks, kodikologi khusus membahas seluk-beluk dan segala aspek sejarah naskah. Dari bahan naskah, tempat penulisan, perkiraan penulis naskah, jenis dan asal kertas, bentuk dan asal cap kertas, jenis tulisan, gambar/ilustrasi, hiasan/illuminasi, dan lain-lain. Nah, tugas kodikologi selanjutnya adalah mengetahui sejarah naskah, sejarah koleksi naskah, meneliti tempat2 naskah sebenarnya, menyusun katalog, nyusun daftar katalog naskah, menyusuri perdagangan naskah, sampai pada penggunaan naskah-naskah itu (Dain dalam SriWulanRujiatiMulyadi,1994:2–3).

2.    Tekstologi
          Tekstologi merupakan bagian dari ilmu filologi yang mempelajari seluk-beluk teks, terutama menelaah yang berhubungan dengan penjelmaan dan penurunan sebuah teks sebagai sebuah teks karya sastra, dari mulai naskah otograf (teks bersih yang ditulis pengarang) sampai pada naskah apograf (teks salinan bersih oleh orang-orang lain), proses terjadinya teks, penafsiran, dan pemahamannya.
          Dengan menyelidiki sejarah teks suatu karya.Data yang terdiri dari karakter-karakter yang menyatakan kata-kata atau lambang-lambang untukberkomunikasi oleh manusia dalam bentuk tulisan.

B.    FOLKLOR

Folklor terdiri atas dua kata, yaitu folk dan lore. Folk berarti kolektif, dan lore artinya adat. Menurut Danandjaja folk adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial dan kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Ciri-ciri pengenal itu antar lain: warna kulit yang sama, bahasa yang sama, bentuk rambut yang sama, mata yang sama, taraf pendidikan byang sana, dan agama yang sama. Lore adalah tradisi yang diwariskan turun temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (Dundes dalam Danandjaja,1994 : 1). Folklor sebagian kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan turuntemurun diantara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk, lisan mupum contoh yang disertai gerak isyarat atau alat pembantu paengingat (Danandjaja, 1992 :2).
    Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa folklor dimiliki oleh suat kolektif masyarakat. Selain itu folklor yang diwariskan turun temurun secara lisan (mulut- kemulut) dalam suatu kolektif masyarakat yang mempunyai cerita berbeda-beda diantara satu daerah dengan daerah lain.
    Folklor meliputi legenda, musik, sejarah lisan, pepatah, lelucon, takhayul, dongeng, dan kebiasaan yang menjadi tradisi dalam suatu budaya, subkultur, atau kelompok. Folklor juga merupakan serangkaian praktik yang menjadi sarana penyebaran berbagai tradisi budaya. Bidang studi yang mempelajari folklor disebut folkloristika. Istilah filklor berasal dari bahasa Inggris, folklore, yang pertama kali dikemukakan oleh sejarawan Inggris William Thoms dalam sebuah surat yang diterbitkan oleh London Journal pada tahun 1846.[1] Folklor berkaitan erat dengan mitologi.
1.    Ciri-ciri Folklor
Kedudukan folklor dengan kebudayaan lainnya tentu saja berbeda, karena folklor memiliki karakteristik atau ciri tersendiri. Menurut pendapat Danandjaja (1997: 3), ciri-ciri pengenal utama pada folklor bisa dirumuskan sebagai berikut:
o    Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut.
o    Folklor bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau dalam bentuk standar.
o    Folklor ada (exis) dalam versi-versi bahkan varian-varian yang berbeda. Hal ini diakibatkan oleh cara penyebarannya dari mulut ke mulut (lisan), biasanya bukan melalui cetakan atau rekaman, sehingga oleh proses lupa diri manusia atau proses interpolasi (interpolation).
o    Folklor bersifat anonim, yaitu nama penciptanya sudah tidak diketahui orang lagi.
o    Folkor biasanya mempunyai bentuk berumus atau berpola, dan selalu menggunakan kata-kata klise.
o    Folklor mempunyai kegunaan sebagai alat pendidik, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam.
o    Folklor bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai logika umum. Ciri pengenalan ini terutama berlaku bagi folklor lisan dan sebagian lisan.
o    Folklor menjadi milik bersama (collective) dari kolektif tertentu. Hal ini sudah tentu diakibatkan karena penciptanya yang pertama sudah tidak diketahui lagi, sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya.
o    Folklor pada umumnya bersifar polos dan lugu, sehingga seringkali kelihatannya kasar, terlalu spontan. Hal ini dapat dimengerti apabila mengingat bahwa banyak folklor merupakan proyeksi emosi manusia yang paling jujur manisfestasinya.
2. Jenis-jenis Folklor
      2.1 Folklor lisan
Menurut pendapat Rusyana (1976) folklor lisan atau sastra lisan mempunyai kemungkinan untuk berperanan sebagai kekayaan budaya khususnya kekayaan sastra; sebagai modal apresiasi sastra sebab sastra lisan telah membimbing anggota masyarakat ke arah apresiasi dan pemahaman gagasan dan peristiwa puitik berdasarkan praktek yang telah menjadi tradisi selama berabad-abad; sebagai dasar komunikasi antara pencipta dan masyarakat dalam arti ciptaan yang berdasarkan sastra lisan akan lebih mudah digauli sebab ada unsurnya yang sudah dikenal oleh masyarakat. Sastra lisan terdiri dari beberapa bagian yaitu :
a. Prosa Lama
Adapun bentuk-bentuk sastra prosa lama adalah :
•    Hikayat berasal dari India dan Arab, berisikan cerita kehidupan para dewi, peri, pangeran, putri kerajaan, serta raja-raja yang memiliki kekuatan gaib. Kesaktian dan kekuatan luar biasa yang dimiliki seseorang, yang diceritakan dalam hikayat kadang tidak masuk akal. Namun dalam hikayat banyak mengambil tokoh-tokoh dalam sejarah. Contoh: Hikayat Hang Tuah.
•    Sejarah (tambo) adalah salah satu bentuk prosa lama yang isi ceritanya diambil dari suatu peristiwa sejarah. Cerita yang diungkapkan dalam sejarah bisa dibuktikan dengan fakta. Selain berisikan peristiwa sejarah, juga berisikan silsilah raja-raja. Sejarah yang berisikan silsilah raja ini ditulis oleh para sastrawan masyarakat lama. Contoh: Sejarah Melayu karya datuk Bendahara Paduka Raja alias Tun Sri Lanang yang ditulis tahun 1612.
•    Kisah adalah cerita tentang cerita perjalanan atau pelayaran seseorang dari suatu tempat ke tempat lain. Contoh: Kisah Perjalanan Abdullah ke Negeri Kelantan, Kisah Abdullah ke Jedah.
•    Dongeng adalah suatu cerita yang bersifat khayal.
Dongeng sendiri banyak ragamnya, yaitu sebagai berikut:
a.    Fabel adalah cerita lama yang menokohkan binatang sebagai lambang pengajaran moral (biasa pula disebut sebagai cerita binatang). Beberapa contoh fabel, adalah: Kancil dengan Buaya
b.    Mite (Mitos) adalah cerita-cerita yang berhubungan dengan kepercayaan terhadap sesuatu benda atau hal yang dipercayai mempuyai kekuatan gaib. Contoh-contoh sastra lama yang termasuk jenis mitos, adalah: Nyai Roro Kidul.
c.    Legenda adalah cerita lama yang mengisahkan tentang riwayat terjadinya suatu tempat atau wilayah. Contoh: Legenda Banyuwangi,.
d.    Sage adalah cerita lama yang berhubungan dengan sejarah, yang menceritakan keberanian, kepahlawanan, kesaktian dan keajaiban seseorang. Beberapa contoh sage, adalah: Calon Arang.
e.    Parabel adalah cerita rekaan yang menggambarkan sikap moral atau keagamaan dengan menggunakan ibarat atau perbandingan. Contoh: Kisah Para Nabi.
f.    Dongeng jenaka adalah cerita tentang tingkah laku orang bodoh, malas, atau cerdik dan masing-masing dilukiskan secara humor. Contoh: Pak Pandir.
g.    Cerita berbingkai adalah cerita yang di dalamnya terdapat cerita lagi yang dituturkan oleh pelaku-pelakunya. Contoh: Seribu Satu Malam.
•    Bidal, adalah cara berbicara dengan menggunakan bahasa kias.  Bidal adalah salah satu bentuk puisi lama atau puisi melayu.sekarang bidal diartikan sebagai pribahasa atau pepatah yang mengandung nasehat,peringatan,sindiran
Bidal adalah suatu jenis peribahasa yang memiliki arti lugas,memiliki irama dan rima sehingga sering digolongkan kedalam bentuk puisi.
Bidal biasanya berupa kalimat singkat yang memiliki makna khiasan atau figuratiaf yang  bertujuan  menangkis dan menyindir.
 Bidal terdiri dari beberapa macam, yaitu :
a.    Pepatah adalah suatu peribahasa yang mengunakan bahasa kias dengan maksud mematahkan ucapan orang lain atau untuk menasehati orang lain.Contoh: Malu bertanya sesat di jalan.
b.    Tamsil (ibarat) adalah suatu peribahasa yang berusaha memberikan penjelasan dengan perumpamaan dengan maksud menyindir, menasihati, atau memperingatkan seseorang dari sesuatu yang dianggap tidak benar.Contoh: Tua-tua keladi.
c.    Perumpamaan adalah suatu peribahasa yang digunakan seseorang dengan cara membandingkan suatu keadaan atau tingkah laku seseorang dengan keadaan alam,benda, atau makhluk alam semesta. Contoh: Seperti anjing makan tulang.
d.    Pemeo adalah suatu peribahasa yang digunakan untuk berolok-olok, menyindir atau mengejek seseorang atau suatu keadaan. Contoh : Ladang Padang.
b. Puisi Lama
Sajak atau puisi rakyat adalah kesustraan rakyat yang sudah tertentu bentuknya, biasanya terjadi dari beberapa deret kalimat, ada yang berdasarkan mantra, ada yang berdasarkan panjang pendek suku kata, lemah tekanan suara, atau hanya berdsarkan irama (Danandjaja, 1997: 46).
•    Lagu-lagu Daerah, yaitu syair-syair yang dinyanyikan atau ditembangkan dengan irama yang indah dan menarik. Seperti: kagu-kagu gondang, lagu-lagu calung, lagu-lagu celempungan.
•    Mantra adalah merupakan puisi tua, keberadaannya dalam masyarakat Melayu pada mulanya bukan sebagai karya sastra, melainkan lebih banyak berkaitan dengan adat dan kepercayaan.
                Contohnya :
          Assalammu’alaikum putri satulung besar
               Yang beralun berilir simayang
          Mari kecil, kemari
          Aku menyanggul rambutmu
                               Aku membawa sadap gading
                        Akan membasuh mukamu
•    Gurindam adalah puisi lama yang berasal dari Tamil (India)
                                      Contoh :
                   Kurang pikir kurang siasat (a)
                   Tentu dirimu akan tersesat (a)

                   Barang siapa tinggalkan sembahyang ( b )
                   Bagai rumah tiada bertiang ( b )


                   Jika suami tiada berhati lurus ( c )
                   Istri pun kelak menjadi kurus ( c )
•    Syair adalah puisi lama yang berasal dari Arab. Sekarang sudah menyebar ke seluruh Nusantara bersama dengan kedatangan Islam. Syair berasal dari bahasa Arab syur’ur yang berarti perasaan. Kata syu’ur berkembang menjadi kata syi’ru yang berarti puisi dalam pengertian umum. Karna terus mengalami perubahan dan di modifikasi sehingga menjadi khas melayu .
•   
                          Contohnya :
                  Pada zaman dahulu kala (a)
                  Tersebutlah sebuah cerita (a)
                  Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
                  Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)

•    Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan dan dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan. Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), bersajak akhir dengan pola a-b-a-b (tidak boleh a-a-a-a, a-a-b-b, atau a-b-b-a). Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis.
Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Jadi Pantun adalah puisi Melayu asli yang cukup mengakar dan membudaya dalam masyarakat.
                          Contoh :
           Ada pepaya ada mentimun (a)
           Ada mangga ada salak (b)
           Daripada duduk melamun (a)
           Mari kita membaca sajak (b)

•    Talibun adalah pantun jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi harus genap misalnya 6, 8, 10 dan seterusnya.
Jika satu bait berisi enam baris, susunannya tiga sampiran dan tiga isi.
Jika satu bait berisi delapan baris, susunannya empat sampiran dan empat isi.
Jadi :
Apabila enam baris sajaknya a – b – c – a – b – c.
Bila terdiri dari delapan baris, sajaknya a – b – c – d – a – b – c – d

                      Contoh :
               Kalau anak pergi ke pekan
               Yu beli belanak pun beli sampiran
               Ikan panjang beli dahulu

c. Drama Lama
Drama lama adalah drama khayalan yang umumnya menceritakan tentang
kesaktian, kehidupan istanan atau kerajaan, kehidupan dewa-dewi, kejadian luar
biasa, dan lain sebagainya.
Dalam kebudayaan Indonesia kita mengenal berbagai macam drama yang
merupakan drama klasik atau bisa disebut juga drama tradisional, seperti wayang
orang, ludruk, ketoprak dan lenong.

1.    Ludruk
2.    Wayang
3.    Wayang Wong (wayang orang) 

1.    Folklor Setengah Lisan
o    Kepercayaan dan takhayul
o    Permainan (kaulinan) rakyat dan hiburan-hiburan rakyat
o    Drama rakyat Seperti: wayang golek, sandiwara, reog, calung, longser, banjet, ubrug, dll.
o    Tari Seperti: tari tayub, tari keurseus, tari ronggeng gunung, tari topeng, dll.
o    Adat atau tradisi
Contohnya: tradisi upacara menanam padi.
o    Pesta-pesta rakyat.
Contohnya: pesta rakyat kawaluan Baduy.
Folklor Bukan Lisan
          Folklor bukan lisan dapat dibagi menjadi dua golongan/bagian, yaitu: Folklor yang materiil, dan Folklor yang bukan materiil
    Folklor Materiil
o    Arsitektur rakyat. Seperti: bentuk julang ngapak, tagog anjing, sontog, duduk jandela, dll.
o    Seni kerajinan tangan. Seperti: seni batik, anyaman, patung, ukiran, bangunan, dll.
o    Pakaian dan perhiasan. Seperti: Kebaya, baju kampret, totopong, bendo, pendok, giwang, penitik, kalung, gengge, siger, mahkuta, kelom geulis, payung, dll.
o    Obat-obat rakyat. Seperti: jamu-jamuan, daun-daunan, kulit pohon, buah, getah, dan jampe-jampe.
o    Makanan dan minuman. Seperti: awug, tumpeng, puncakmanik, dupi, lontong, ketupat, angleng, wajit, dodol, kolotong, opak, ranginang, ulen, liwet, kueh cuhcur, surabi, bakakak, dadar gulung, aliagrem, dan minuman: lahang, wedang, bajigur, bandrek, dll.
o    Alat-alat musik. Seperti: kacapi, suling, angklung, calung, dogdog, kendang, gambang, rebab, celempung, terebang, tarompet, dll.
o    Peralatan dan senjata. Seperti: rumah tanga; nyiru, dingkul, ayakan, sirib, dulang, dll. Alat pertanian: pacul, parang, wuluku, garu, caplakan, kored, congrang, patik, dekol, balicong, bedog, peso raut, peso rajang, arit, dll. Senjata: tombak, paser, ketepel, sumpit, badi, keris, dll.
o    Mainan. Seperti: ucing sumput, pris-prisan, engkle-engklean, sondah, sapintrong, congklak, damdaman, kasti, langlayangan, papanggalan, luncat galah, kukudaan, dll.
    Folklor Bukan Materil
o    Bahasa isyarat (gesture) Seperti: bersiul, mengacungkan jempol, mengedipkan mata, melambaikan tangan, mengangguk, menggeleng, mengepalkan tangan, dll.
o    Laras musik Seperti: laras salendro, laras pelog, laras dedegungan, laras madenda, dll.
2.    Fungsi Folklor
     Folklor mempunyai fungsi untuk mendukung berbagai kegiatan dilingkungan masyarakat. Kedudukan atau fungsi folklor yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat ini dapat dilihat dalam Tradisi Sya’banan di Dusun Pringtutul Desa Kalisabuk Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap. Pada dasarnya fungsi dari acara ini antara lain sebagai media silaturahmi untuk mensucikan diri dari kesalahan yang telah diperbuat terhadap orang lain dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

1.    Puisi Lama

Puisi lama adalah puisi yang banyak terikat oleh aturan-aturan. Aturan-aturan itu antara lain jumlah baris dalam 1 bait, jumlah kata dalam 1 baris, persjakan, banyaknya suku kata tiap baris  maupun irama.
Ciri-ciri puisi lama yaitu : 
1.    Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.
2.    Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.
3.    Sangat terikat oleh atura-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun irama.
Jenis – jenis puisi lama adalah :
1.    Mantra
Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
Ciri – ciri mantra yaitu :
1.    Berirama akhiran abc-abc,abcd-abcd, abcde-abcde.
2.    Bersifat lisan, sakti atau magis.
3.    Adanya perulangan.
4.    Metafora merupakan unsur penting.
5.    Bersifat esoferik (bahasa khusus antra pembicara   dan    lawan    bicara) dan misterius.
Contohnya :
Assalammu’alaikum putri satulung besar
Yang beralun berilir semayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu
2.    Pantun
Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-ba-b, tiap bait terdiri 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama atau nasihat, teka-teki, jenaka.
Ciri – ciri pantun yaitu :
1.    Setiap bait terdiri atas empat baris.
2.    Setiap baris terdiri dari 4 kata (8 sampai 12 suku kata).
3.    Rimanya a b a b atau bersajak silang.
4.    Baris pertama dan kedua merupakan sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempat merupakan isi.
Contohnya :
Kalau ada jarum patah
Jangan dimasukkan ke dalam peti
Kalau ada kataku yang salah
Jangan dimasukkan ke dalam hati
3.    Karmina
Karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek.
Ciri – ciri karmina yaitu :
1.    Setiap bait merupakan bagian dari keseluruhan.
2.    Bersajak aa-aa, aa-bb.
3.    Tidak  memiliki sampiran, hanya memiliki isi.
4.    Semua baris diawali huruf capital
5.    Semua baris diakhiri koma, kecuali baris ke-4 diakhiri tanda titik.
Contohnya :
Dahulu parang, sekarang besi (a)
Dahulu sayang sekarang benci (a)
4.    Seloka
Seloka adalah pantun berkait.
Ciri – ciri seloka yaitu :
1.    Ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair,
2.    Namun ada seloka yang ditulis lebih dari empat baris,
 Contohnya :
Lurus jalan ke Payakumbuh,
Kayu jati bertimbal jalan
Di mana hari tak kan rusuh,
Ibu mati bapak berjalan
5.    Gurindam
Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat.
Ciri – ciri gurindam yaitu :
1.    Terdiri atas dua baris.
2.    Berima akhir a a.
3.    Baris pertama merupakan syarat, baris kedua berisi akibat  dari apa yang disebut pada baris pertama.
4.    Kebanyakan isinya mengenai nasihat dan sindiran.
Contohnya :
Kurang pikir kurang siasat (a)
Tentu dirimu akan tersesat (a)
Barang siapa tinggalkan sembahyang (b)
Bagai rumah tiada bertiang (b)
Jika suami tiada berhati lurus (c)
Istri pun kelak menjadi kurus (c)
6.    Syair
Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita.
Ciri – ciri syair yaitu :
1.    Setiap bait terdiri dari empat baris.
2.    Setiap baris terdiri atas 3-4 kata.
3.    Rimanya a a a a atau bersajak lurus.
4.    Tidak ada sampiran, semua merupakan isi syair.
5.    Isi syair merupakan kisah atau cerita.
Contohnya :
Pada zaman dahulu kala (a)
Tersebutlah sebuah cerita (a)
Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)
7.    Talibun
Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6,8 ataupun 10 baris.
Ciri – ciri talibun yaitu :
1.     Jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi harus genap  misalnya, 6,8,10 dan seterusnya.
2.    Jika satu bait berisi enam baris, susunannya tiga sampiran dan tiga isi.
3.    Apabila enam baris sajaknya a-b-c-a-b-c.
4.    Bila terdiri dari delapan baris, sajaknya a-b-c-d-a-b-c-d

contohnya :
Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak pun beli sampiran
Ikan panjang beli dahulu
        Kalau anak pergi berjalan
        Ibu cari sanak pun cari isi
        Induk semang cari dahulu

2.    Prosa Lama
Prosa lama merupakan karya sastra yang belum mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaan barat. Karya sastra prosa lama yang mula-mula timbul disampaikan secara lisan, disebabkan karena belum dikenalnya bentuk tulisan. Setelah agama dan kebudayaan Islam masuk ke Indonesia, masyarakat menjadi akrab dengan tulisan, dan bentuk tulisan pun mulai banyak dikenal. Sejak itulah sastra tulisan mulai dikenal dan sejak itu pulalah babak-babak sastra pertama dalam rentetan sejarah sastra Indonesia mulai ada.
Adapun bentuk-bentuk sastra prosa lama adalah :
1.    Hikayat, berasal dari India dan Arab, berisikan cerita kehidupan para dewi, peri, pangeran, putri kerajaan, serta raja-raja yang memiliki kekuatan gaib. Kesaktian dan kekuatan luar biasa yang dimiliki seseorang, yang diceritakan dalam hikayat kadang tidak masuk akal. Namun dalam hikayat banyak mengambil tokoh-tokoh dalam sejarah.
Contoh: Hikayat Hang Tuah, Kabayan, Si Pitung, Hikayat Si Miskin, Hikayat Indra Bangsawan, Hikayat Sang Boma, Hikayat Panji Semirang, Hikayat Raja Budiman.     
2.    Sejarah (tambo), adalah salah satu bentuk prosa lama yang isi ceritanya diambil dari suatu peristiwa sejarah. Cerita yang diungkapkan dalam sejarah bisa dibuktikan dengan fakta. Selain berisikan peristiwa sejarah, juga berisikan silsilah raja-raja. Sejarah yang berisikan silsilah raja ini ditulis oleh para sastrawan masyarakat lama.
Contoh: Sejarah Melayu karya datuk Bendahara Paduka Raja alias Tun Sri Lanang yang ditulis tahun 1612.
3.    Kisah, adalah cerita tentang cerita perjalanan atau pelayaran seseorang dari suatu tempat ke tempat lain.
Contoh: Kisah Perjalanan Abdullah ke Negeri Kelantan, Kisah Abdullah ke Jedah.
4.    Dongeng, adalah suatu cerita yang bersifat khayal. Dongeng sendiri banyak ragamnya,  yaitu sebagai berikut :
    Fabel, adalah cerita lama yang menokohkan binatang sebagai lambang pengajaran   moral (biasa pula disebut sebagai cerita binatang).
Beberapa contoh fabel, adalah: Kancil dengan Buaya, Kancil dengan Harimau, Hikayat Pelanduk Jenaka, Kancil dengan Lembu, Burung Gagak dan Serigala, Burung Bangau dengan Ketam, Siput dan Burung Centawi, dll.
    Mite (Mitos), adalah cerita-cerita yang berhubungan dengan kepercayaan terhadap sesuatu benda atau hal yang dipercayai mempuyai kekuatan gaib.
Contoh-contoh sastra lama yang termasuk jenis mitos, adalah: Nyai Roro Kidul, Ki Ageng Selo, Dongeng tentang Gerhana, Dongeng tentang Terjadinya Padi, Harimau Jadi-Jadian, Puntianak, Kelambai, dll.
    Legenda, adalah cerita lama yang mengisahkan tentang riwayat terjadinya suatu tempat atau wilayah.
Contoh: Legenda Banyuwangi, Tangkuban Perahu, dll.
    Sage, adalah cerita lama yang berhubungan dengan sejarah, yang menceritakan keberanian, kepahlawanan, kesaktian dan keajaiban seseorang.
Beberapa contoh sage, adalah: Calon Arang, Ciung Wanara, Airlangga, Panji, Smaradahana, dll.
    Parabel, adalah cerita rekaan yang menggambarkan sikap moral atau keagamaan dengan menggunakan ibarat atau perbandingan.
Contoh: Kisah Para Nabi, Hikayat Bayan Budiman, Mahabarata, Bhagawagita, dll.
    Dongeng jenaka, adalah cerita tentang tingkah laku orang bodoh, malas, atau cerdik dan masing-masing dilukiskan secara humor.
Contoh: Pak Pandir, Lebai Malang, Pak Belalang, Abu Nawas, dll.
5.    Cerita berbingkai, adalah cerita yang di dalamnya terdapat cerita lagi yang dituturkan oleh pelaku-pelakunya.
Contoh: Seribu Satu Malam.
6.    Kisah
Karya sastra lama yang berisikan cerita tentang cerita perjalanan atau pelayaran seseorang dari suatu tempat ke tempat lain. Contoh kisah dalam karya sastra lama, antara lain:
a.    Kisah Perjalanan Abdullah ke Negeri Kelanta.
b.    Kisah Abdullah ke Jedah.

3.    Drama Lama / Drama Klasik
Drama lama adalah drama khayalan yang umumnya menceritakan tentang
kesaktian, kehidupan istanan atau kerajaan, kehidupan dewa-dewi, kejadian luar
biasa, dan lain sebagainya.
Dalam kebudayaan Indonesia kita mengenal berbagai macam drama yang
merupakan drama klasik atau bisa disebut juga drama tradisional, seperti wayang
orang, ludruk, ketoprak dan lenong.
a.    Ludruk
Ludruk merupakan teater tradisional yang bersifat kerakyatan di daerah Jawa Timur, berasal dari daerah Jombang. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa dengan dialek Jawa Timuran. Dalam perkembangannya ludruk menyebar ke daerah-daerah sebelah barat seperti karesidenan Madiun, Kediri, dan sampai ke Jawa Tengah. Ciri-ciri bahasa dialek Jawa Timuran tetap terbawa meskipun semakin ke barat makin luntur menjadi bahasa Jawa setempat. Peralatan musik daerah yang digunakan, ialah kendang, cimplung, jidor dan gambang dan sering ditambah tergantung pada kemampuan grup yang memainkan ludruk tersebut. Dan lagu-lagu (gending) yang digunakan, yaitu Parianyar, Beskalan, Kaloagan, Jula-juli, Samirah, Junian.
Pemain ludruk semuanya adalah pria. Untuk peran wanitapun dimainkan oleh pria. Hal ini merupakan ciri khusus ludruk. Padahal sebenarnya hampir seluruh teater rakyat di berbagai tempat, pemainnya selalu pria (randai, dulmuluk, mamanda, ketoprak), karena pada zaman itu wanita tidak diperkenankan muncul di depan umum.
b.    Wayang
Wayang merupakan suatu bentuk teater tradisional yang sangat tua, dan dapat ditelusuri bagaimana asal muasalnya. Dalam menelusuri sejak kapan ada pertunjukan wayang di Jawa, dapat kita temukan berbagai prasasti pada Zaman Raja Jawa, antara lain pada masa Raja Balitung. Pada masa pemerintahan Raja Balitung, telah ada petunjuk adanya pertunjukan Wayang seperti yang terdapat pada Prasasti Balitung dengan tahun 907 Masehi. Prasasti tersebut mewartakan bahwa pada saat itu telah dikenal adanya pertunjukan wayang.
Petunjuk semacam itu juga ditemukan dalam sebuah kakawin Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, pada Zaman Raja Airlangga dalam abad ke-11. Oleh karenanya pertunjukan wayang dianggap kesenian tradisi yang sangat tua. Sedangkan bentuk wayang pada zaman itu belum jelas tergambar model pementasannya.
Awal mula adanya wayang, yaitu saat Prabu Jayabaya bertakhta di Mamonang pada tahun 930. Sang Prabu ingin mengabadikan wajah para leluhurnya dalam bentuk gambar yang kemudian dinamakan Wayang Purwa. Dalam gambaran itu diinginkan wajah para dewa dan manusia Zaman Purba. Pada mulanya hanya digambar di dalam rontal (daun tal). Orang sering menyebutnya daun lontar. Kemudian berkembang menjadi wayang kulit sebagaimana dikenal sekarang.
c.    Wayang Wong (wayang orang)
Wayang Wong dalam bahasa Indonesia artinya wayang orang, yaitu pertunjukan wayang kulit, tetapi dimainkan oleh orang. Wayang wong adalah bentuk teater tradisional Jawa yang berasal dari Wayang Kulit yang dipertunjukan dalam bentuk berbeda: dimainkan oleh orang, lengkap dengan menari dan menyanyi, seperti pada umumnya teater tradisional dan tidak memakai topeng. Pertunjukan wayang orang terdapat di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedangkan di Jawa Barat ada juga pertunjukan wayang orang (terutama di Cirebon) tetapi tidak begitu populer. Lahirnya Wayang Orang, dapat diduga dari keinginan para seniman untuk keperluan pengembangan wujud bentuk Wayang Kulit yang dapat dimainkan oleh orang. Wayang yang dipertunjukan dengan orang sebagai wujud dari wayang kulit -hingga tidak muncul dalang yang memainkan, tetapi dapat dilakukan oleh para pemainnya sendiri. Sedangkan wujud pergelarannya berbentuk drama, tari dan musik.
Wayang orang dapat dikatakan masuk kelompok seni teater tradisional, karena tokoh-tokoh dalam cerita dimainkan oleh para pelaku (pemain). Sang Dalang bertindak sebagai pengatur laku dan tidak muncul dalam pertunjukan. Di Madura, terdapat pertunjukan wayang orang yang agak berbeda, karena masih menggunakan topeng dan menggunakan dalang seperti pada wayang kulit. Sang dalang masih terlihat meskipun tidak seperti dalam pertunjukan wayang kulit. Sang Dalang ditempatkan dibalik layar penyekat dengan diberi lubang untuk mengikuti gerak pemain di depan layar penyekat. Sang Dalang masih mendalang dalam pengertian semua ucapan pemain dilakukan oleh Sang Dalang karena para pemain memakai topeng. Para pemain di sini hanya menggerakgerakan badan atau tangan untuk mengimbangi ucapan yang dilakukan oleh Sang Dalang. Para pemain harus pandai menari. Pertunjukan ini di Madura dinamakan topeng dalang. Semua pemain topeng dalang memakai topeng dan para pemain tidak mengucapkan dialog.
•    Unsur- unsur drama
Drama dilihat dari dua unsur dimensi yaitu dimensi sastra dan dimensi pertunjukan.
a)    Dalam dimensi sastra memiliki dua unsur yaitu Unsur intrinsik dan unsure ekstrinsik.
•    Unsur ekstrinsik  yaitu :
-    Tema ( ide pokok yang ingin disampaikan dari sebuahg cerita yang di tampilkan )
-    Alur ( rangkaian cerita/ jalan cerita dari sebuah pementasan )
-    Tokoh/ penokohan ( karakter tokoh dalam suatu cerita )
-    Latar / setting ( latar tempat,waktu dan keadaan )
-    Amanat ( pesan atau nilai-nilai yang terkadum dalam cerita tersebut )
•    Unsur ekstrinsik
-    Nilai sosil budaya dari pementasan
-    Nilai relijius / nilai agama
b)    Dalam dimensi pertunjukan memiliki unsure ekstrinsik.
•    Unsur intrinsik seperti, Property,Sutradara ,Panggung, penonton













RANGKUMAN
SASTRA DAERAH


Bab I  PENGERTIAN FILOLOGI

Filologi adalah suatu pengetahuan  tentang satra-sastra dalam  yang luas yang mencakup  bidang kebbahasaan, kesastraan dan kebudayaan.
1.1    Secara Etimologi Filologi berrsala dari  kata yunanni  philos  yang berrarti ‘cinta’  dan kata  logos yang berarti  ‘kata’. Pada kata folologi, kedua kata tersebut  membentuk kata arti  ‘cinta kata’ atau ‘senang bertutur.

1.2     Filologi sebagai istilah mempunyai  beberapa arti sebagai berikut :
a)    filologi sudah dipakai sejak abad ke-3 S.M. Oleh karena luasnya  jangkauan isi teks  klasik maka filologi juga berarti ilmu pengetahuan  tentang segala  sesuatu yang perna diketahui orang.
b)    filologi perna dipandang  sebagai sastra secara ilmiah.ari ini muncul ketika  teks-teks yang dikaji itu berupa karya sastra yang bernilai  sastra tinggi  ialah karya-karya humeros.
c)    filologi dipakai juga sebagai  istilah untuk menyebut studi  bahasa atau ilmu bahasa. Istilah filologi yang dalam arti  studi teks, suatu studi yang melakukan  kegiatannya dengan mengadakan  kritik terhadap  teksatau kritik teks.  Dalam pengertian ini, filolpgi dikenal sebagai  studi tentang seluk beluk teks.
d)    Dalam perkembangan yang mutakhir filologi memandang perbedaan  yang ada dalam berbagai  naskah sebagai suatu  ciptaan dan  menitikberatkan kerjanya pada perbedaan –perbedaan  tersebut serta memandangnya  justru sebagai alternative yang positif.
1.3    objek filologi
1.3.1 Filologi mempunyai  objjek naskah dan teks.
Filologi berusaha mengungkapkan  hasil budaya suatu bangsa melalui kajian bahasa  pada peninggalan dalam bentuk  tulisan. Dalam filologi istilah tekls menunjukan pengertian  sebagai suatu yang abstrak, sedang naskah merupakan sesuatu yang  konkret. Pemahaman terhadapteks klasik  hanya dapat dilakukan  lewat naskah yang  merupakan  alat penyimpanannya.
Naskah yang menjadi sasaran kerja filolgi dipandang sebagai hasil budaya yang berupa cipta sastra. Naskah itu dipandang sebagai  cipta sastra karena teks yang terdapat dalam naskah itu merupakan suatu keutuhan dan mengungkapkan pesan-pesan  yang terbaca didalam  teks. Penyebutan “klasik” pada teks-teks sastra nusantara  hakikatnya berkenaan dengan  masalah waktu. Bagi sastra klasik di Indonesia, penetapan waktu yang menunjukan  keklasikannya bersipat tidak  pasti. Melalui penggarapan naskah, filologi mengkaji teks klasik dengan tujuan mengenalinya sesempurna-sesempurnanya dan selanjutnya menempatkanny dalam keseluruhan sejarah  suatu bangsa.

1.3.2 tempat penyimpanan naskah
Naskah biasanya disimpan pada berbagai catalog di perpustakaan dan museum yang terdapat di berbagai Negara.

1.4 Tujuan filologi
 filologi mengkaji teks klasik dengan tujuan  mengenalinya sesempurna-sempurnanya dan selanjutnya manempatkannya dalam keseluruhan sejara suatu bangsa.
1.4.1  tujuan umum filologi
a)    . memahami sejauh mungkin kebudayaan suatu bangsa melalui hasil sastranya,baik lisan maupun tulisan.
b)    memahami makna dan fungsi teks bagi masyarakat penciptanya.
c)    menggungkapkan nilai-nilai budaya lama sebagai alternative pengembangan kebudayaan.
1.4.2 Tujuan khusus filologi
a)    menyunting sebuah teks yang dipandang paling dekat dengan teks aslinya.
b)    mengungkap sejarah terjadinya teks dan sejarah perkembangannya.
c)    Mengungkap resepsi pembaca pada setiap kurun penehnaannya.




Bab II KEDUDUKAN FILOLOGI DI ANTARA ILMU-ILMU LAIN

Jika kita memperhatikan kedudukan filologi di antara ilmu-ilmu lain yang erat hubungannya dengan objek penelitian filologi, maka tampak adanya hubungan timbal balik, saling membutuhkan. Untuk kepentingan tertentu, filologi memandang ilmu-ilmu yang lain sebagai ilmu bantunya, sebaliknya ilmu-ilmu yang lain, juga untuk kepentingan tertentu memandang filologi sebagai ilmu bantunya. Di bawah ini di kemukakan ilmu-ilmu yang dipandang sebagai ilmu bantu filologi dan ilmu-ilmu yang memandang filologi sebagai ilmu bantunya.
      2.1 Ilmu bantu filologi

2.1.1 Linguistik

    Ada beberapa cabang linguistik yang dipandang dapat membantu filologi, antara lain, yaitu etimologi, sosiolinguistik, dan stilistika. Etimologi, ilmu yang mempelajari asal-usul dan sejarah kata, telah lama menarik perhatian ahli filologi. Hampir dapat dikatakan bahwa pada setiap pengkajian bahasa teks, selalu ada yang bersifat etimologis. Hal ini mudah dimengerti karena bahasa-bahasa di Nusantara banyak mengandung kata serapan dari bahasa asing, yang dalam perjalanan hidupnya mengalami perubahan bentuk dan kadang juga perubahan arti. Itulah sebabnya maka kata-kata  semacam itu, untuk pemahaman teks, perlu dikaji sejarahnya. Pengkajian perubahan bentuk dan makna kata menuntut pengetahuan tentang fonologi, morfologi, dan semantik, yaitu ilmu-ilmu yang mempelajari bunyi bahasa, pembentukan kata, dan makna kata. Ketiganya juga termasuk linguistik. 
Sosiolinguistik, sebagai cabang lingiuistik yang mempelajari hubungan dan saling pengaruh antara perilaku bahasa dan perilaku masyarakat, sangat bermanfaat untuk menekuni bahasa teks, misalnya ada tidaknya unda usuk bahasa, ragam bahasa, alih kode yang erat kaitannya dengan konvensi masyarakat pemakai bahasa. Hasil kajian seperti ini diharapkan dapat membantu pengungkapan keadaan sosiobudaya yang terkandung dalam naskah.
Stilistika yaitu cabang ilmu linguistik yang menyelidiki bahasa sastra, khususnya gaya bahasa, diharapkan dapat membantu filologi dalam pencarian teks asli atau mendekati aslinya dan dalam penentuan usia teks.

2.1.2 Pengetahuan Bahasa-bahasa yang MempengaruhiBahasa Teks

Pada nasakah yang semula berupa teks lisan, tampak adanya pengaruh bahasa Barat. Oleh karena itu pengaruh bahasa tamil, persi, dan Barat terhadap bahasa naskah sangat sedikit maka untuk telaah teks atau pemahaman teks dipandang tidak memerlukan pendalaman bahasa-bahasa tersebut. Lain halnya dengan bahasa arab dan bahasa sansekerta. Di bawah ini ditunjukan pentingnya bahasa-bahasa tersebut di atas untuk penanganan naskah.

2.1.2.1 Bahasa Sansekerta

Terutama pada pengkajian naskah-naskah jawa khususnya jawa kuna dan melayu, sangat dituntut pengetahuan bahasa sansekerta. Dalam naskah jawa kuna dan melayu, pengaruh bahasa ini sangat besar, tidak hanya berupa penyerapan kosa kata dan frase melainkan juga munculnya cuplikan-cuplikan yang kadang-kadang tanpa terjemahan. Dengan demikian penanganan naskah-naskah jawa kuna dan melayu memerlukan pengetahuan bahasa sansekerta. 

2.1.2.2    Bahasa Arab

Pengetahuan bahasa arab di perlukan terutama dalam pengkajian naskah-naskah yang kena pengaruh islam, khususnya yang berisi ajaran islam dan tasawuf atau suluk. Dalam naskah yang demikian itu, banyak terlihat kata-kata, frase, kalimat, ungkapan, dan nukilan-nukilan dalam bahasa Arab, bahkan kadang-kadang bagian teks tertentu, misalnya pendahuluan disusun dalam bahasa Arab. Hanya pengetahuan bahasa Arab yang memadailah yang memungkinkan dapat membacanya dengan benar.
  
2.1.2.3    Pengetahuan Bahasa-bahasa Daerah Nusantara

Disampinng bahasa asing yang besar pengaruhnya terhadap bahasa naskah, untuk penggarapan naskah-naskah Nusantara diperlukan pengetahuan tentang bahasa daerah Nusantara, yang erat kaitannya dengan bahasa naskah. Tanpa pengetahuan ini, penggarap naskah kadang-kadang direpotkan oleh pembacaan kata yang ternyata bukan kata dari bahasa asing, melainkan kata dari salah satu bahasa daerah.


2.1.3    Ilmu Sastra

Ilmu sastra telah dipelajari sejak zaman Aristotheles buku Poetika hasil karya Aristotheles yang sangat terkenal, merupakan karya besar tentang teori sastra yang paling awal(Sutrisno,19881:6). Dalam memperlihatkan perkembangan ilmu sastra sepanjang masa, Abrams (1953) oleh Teuw (1980) dinilai telah berhasil dengan baik dan tepat. Berdasarkan cara menerangkan dan menilai karya-karya sastra, Abrams (1981, 36-37) membedakan tipe-tipe pendekatan (kritik) trdisional menjadi empat:
1. Pendekatan mimetik : menonjolkan aspek-aspek referensi, acuan karya sastra, dan kaitannya dengan dunia nyata.
2. Pendekatan pragmatik : menonjolkan pengaruh karya sastra terhadap pembaca/pendengarnya.
3. Pendekatan ekspresif : menonjolkan penulis karya sastra sebagai penciptaanya.
4. Pendekatan objektif  : menonjolkan karya sebagai struktur otonomi lepas dari latar belakang sejarahnya dan dari diri serta niat penulisnya.
Selain dari pendekatan-pendekatan diatas, terdapat satu pendekatan lagi yang akhir-akhir ini tampak banyak dibicarakan, yakni pendekatan represif, suatu pendekatan yang lebih menitikberatkan kepada pembaca atau penikmat sastra, bukan tanggapan perseorangan melainkan tanggapan kelompok masyarakat atau masyarakat (Abrams, 1981:155)
Di samping hal-hal di atas, dalam ilmu sastra muncul suatu cabang yang relatif baru yaitu sosiologi sastra, suatu ilmu yang melakukan pendekatan terhadap sastra dengan mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan antara lain :
1. Konteks sosial pengarang, bagaimana pengarang mendapatkan nafkah,profesionalisme
    Kepengarangan, masyarakat yang dituju si pengarang.
2. Sastra sebagai cermin masyarakat.
3. Fungsi sastra dalam masyarakat.

2.1.6 Antropologi

Ahli filologi dapat memanfaatkan hasil kajian atau metode antropologi sebagai suatu ilmu yang berobjek penyelidikan manusia dipandang dari segi fisiknya, masyarakatnya, dan kebudayaannya. Masalah yang erat pautannya dengan antropologi misalnya sikap masyarakat tentang naskah yang sampai sekarang masih hidup, terhadap naskah yang dimilikinya, apakah naskah itu dipandang sebagai benda keramat atau sebagai benda biasa. Demikianlah beberapa gambaran yang memperlihatkan perlunya pengetahuan antropologi untu penanganan naskah-naskah Nusantara.

2.1.7 Folklor

Folklor masih merupakan ilmu yang masih relatif baru karena semula dipandang sebagai bagian dari antropologi. Unsur budaya yang dirangkumnya secara garis besar dapat digolongkan menjadi dua yaitu pertama, golongan unsur budaya yang materinya bersifat lisan dan kedua, golongan unsur budaya yang berupa upacara-upacara. Dengan demikian golongan yang erat kaitannya dengan filologi terutama golongan pertama. Gabungan ini mencakup unsur-unsur budaya yang biasa disebut sastra lisan yang termasuk cerita rakyat.

Sebagai kesimpulan uraian tentang filologi dan ilmu-ilmu bantunya, dapat dikemukakan bahwa penggarapan naskah-naskah lama Nusantara dengan baik memerlukan bekal teori dan pengetahuan bahasa, sastra, agama, dan sosiobudaya bangsa yang melahirkannya.


2.2 filologi sebagai ilmu bantu ilmu-ilmu lain

2.2.5 Filologi sebagai Ilmu Bantu Hukm Adat

Manfaat filologi bagi ilmu hukum adat, seperti bagi ilmu-ilmu yang lain, ialh terutama dalam penyediaan teks, banyak naskah Nusantara yang merekam adat istiadat. Selain itu dalam khazanah sastra Nusantara terdapat teks yang memang dimaksudkan sebagai hukum, yang dalam masyarakat melayu disebut dengan istilah “undang-undang” di jawa disebut angger-angger. Penulisannya baru dilakukan setelah dirasakan perlunya kepastian peraturan hukum oleh raja atau setelah ada pengaruh dunia barat.

2.2.6 Filologi sebagai Ilmu Bantu perkembangan agama
Suntingan naskah terutama naskah yang mengandung teks keagamaan/sastra kitab dan hasil pembahasan kandungannya, akan menjadi bahan penulisan perkembangan agama yang sangat berguna. Dari konteks keagamaan itu dapat diperoleh gambaran  antara lain, perwujudan penghayatan agama, pencampuran agama hindu, budha, dan Islam dengan kepercayaan yang hidup dalam masyarakat Nusantara, permasalahan aliran-aliran agama yang masuk ke Nusantara. Gambaran itu merupakan permasalahan yang ditangani oleh ilmu sejarah perkembangan agama. Dengan demikian penanganan naskah sastra kitab secara filologis akan sangat bermanfaat bagi ilmu sejarah perkembangan agama.

  2.2.7 Filologi sebagai Ilmu Bantu Filsafat

Penggalian filsafat dari teks-teks sastra Nusantara secara mendalam agaknya belum banyak dilakukan, meskipun jumlah suntingan naskah-naskah sudah cukup tersedia. Dengan demikian, sumbangan utama filologi terhadap filsafat adalah berupa suntingan naskah disertai transliterasi dan terjemahan ke dalam bahasa nasional, yang selanjutnya dapat dimanfaatkan oleh para ahli filsafat. 




Bab III SEJARAH PERKEMBANGAN FILOLOGI

Kebudayaan yunani lama merupakn salah satu dasr yang sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat Barat pada umumnya. Dalam segala bidang kehidupan, dapat dirasakan unsur-unsur yang berdasarkan kebudayaan Yunani lama yang aspek-aspeknya tersimpan dalam naskah-naskah lama milik bangsa itu. Diantara ilmu-ilmu yang mampu membuka aspek-aspek itu adalah ilmu filologi. Oleh karena itu ilmu filologi yunani lama merupakan ilmu yang penting untuk menyajikan kebudayaan yunani lama yang hingga abad ini tetap berperan dalam meprluas dan memperdalam pengetahuan mengenai sumber dari segala ilmu penngetahuan. Kebudayan Yunani lama tidak hanya berpengaruh di dunia barat, tetapi berpengaruh juga di bagian dunia yang lain, seperti kawasan timur tengah, asia dan asia tenggara, serta kawasan Nusantara.

3.1 filologi di Eropa Daratan

Dalam sejarahnya, ilmu filologi tumbuh dan berkembang di kawasan kerajaan Yunani, yaitu di kota Iskandariyah di benua Afrika di pantai utara. Dari kota ini, ilmu filologi berkembang dan meluas di Eropa daratan dan seterusnya ke bagian dunia yang lain.

3.1.1 Awal Perumbuhannya

Awal kegiatan filologi di kota iskandariyah dilakukan oleh bangsa Yunani pada abad ke-3 SM. Bangsa itu berhasil membaca naskah-naskah lama yang ditulis pada abad ke-8 SM dalam huruf yang berasal dari bangsa Funisia yang kemudian dikenal dengan huruf Yunani. Naskah-naskah itu menggunakan bahan daun papyrus, merekam tradisi lisan yang mereka miliki berabad-abad sebelumnya. Mulai abad ke-8 sampai ke-3 SM. Naskah-naskah itu selalu disalin sehingga wajarlah kalau selalu mengalami perubahan dari bentuk aslinya.
Para ahli filologi pada waktu itu benar-benar memiliki ilmu yang luas kerena untuk memahami isi naskah itu orang harus mengenal hurufnya, bahasanya, dan ilmu yang dikandungnya. Setelah dapat membaca dan memahami isinya, mereka lalu menulisnya kembali pada huruf dan bahasa yang dipakai pada waktu itu. Dengan demikian, kebudayaan Yunani lama yang memiliki nilai luhur itu dapat dikenal oleh masyarakat pada waktu itu.
Sesudah iskandariyah jatuh ke dalam kekuasaan Romawi, kegiatan filologi berpindah ke Eropa selatan berpusat di kota Roma dan melanjutkan tradisi filologi Yunani lama yang menjadi bahan telaah utama dan bahasa Yunani masih tetap digunakan.abad ke-1 merupakan masa perkembangan tradisi Yunani berupa pembuatan resensi terhadap naskah-naskah tertentu. Perkembangan ini berkelanjutan hingga pecahnya kerajaan Romawi pada abad ke-4 menjadi kerajaan Romawi barat dan timur. Peristiwa ini mempengaruhi perkembangan filologi selanjutnya.


3.1.2 Filologi di Romawi bBarat dan Romawi Timur

Kegiatan filologi di Romawi barat diarahkan kepada penggarapan naskah-naskah dalam bahasa latin yang sejak abad ke-3 SM telah digarapsecara filologis. Isi naskah-naskah itu banyak mewarnai dunia pendidikan di Eropa  pada abad-abad selanjutnya. Sejak abad ke-4, teks mulai ditulis dalam bentuk buku atau disebut codex dan menggunakan kulit binatang,teutama kulit domba sehingga lebih mudah dibaca dan tahan lama dibandingkan dengan bahan dari papyrus.
Pada waktu telaah teks Yunani Nampak mundur di Romawi barat, maka di Romawi timur mulai muncul pusat-pusat studi tekskarena dirasakan kurangnya ahli untuk melakukan kegiatan itu untuk mendapatkan tenaga-tenaga filologi, naskah yang di pandang penting diajarkan di perguruan tinggi sehingga munculah mimbar-mimbar kuliah filologi di berbagai perguruan tinggi. .  

3.1.3 Filologi di Zaman Renaisans

Pada zaman renaisans, telaah teks lama timbul kembali setelah berabad-abad di abaikan. Metode kajiannya tetap berpijak pada kritik teks dan sejarahnya. Jatuhnya kerajaan Romawi timur atau Bizanzium ketangan bangsa Turki pada abad ke-15 mendorong banyak ahli filologi dari Romawi timur berpindah ke Eropa selatan, terutama ke kota Roma. Di tempat-tempatbaru ini mereka mendapat kedudukan sebagai pengajar atau penyalin naskah atau penerjemah teks Yunani ke dalam bahasa Latin. Pada perkembangan selanjutnya filologi berpisah dengan ilmu kebahasaan atau linguistik yang berdiri sendiri.

3.2 filologi di kawasan Timur Tengah

Negara-negara Timur Tengah mendapatkan ide filsapati dari ilmu eksakta dari bahasa Yunani lama yang semenjak zaman Iskandar Zulkarnain telah menanamkan kebudayaan di mesir, siria, dan tempat-tempat lainnya. Sejak abad ke-4 beberapa kota di Timur Tengah memiliki perguruan tinggi, pusat studi berbagai ilmu pengetahuan yang berasal dari Yunani. Pada zaman dinasti Abasiyah, dalam pemerintahan khalifah Khalifah Manshur(754-775), Harun Alrasyid(786-809), dan Makmun(809-833) studi naskah dan ilmu pengetahuan Yunani makin berkembang dan puncak perkembangan itu dalam pemerintahan Makmun. 
Kedatangan bangsa Barat di kawasan Timur Tengah membuka kegiatan filologi untuk meneliti naskah-naskah di kawasan itu, sehingga naskah itu dikenal di dunia Barat..Kajian filologi terhadap naskah-naskah di kawasan ini dilakukan di pusat-pusat kebudayaan ketimuran di kawasan Eropa dan hasil kajian itu berupa teoti-teori mengenai kebudayaan dari sastra Arab, Persi, Siria, Turki, dan lain sebagainya.

3.3 Telaah Filologi terhadap Naskah-naskah India

Naskah-naskah India berisi berbagai aspek kebudayaan, baru mulai ditelaah semenjak kedatangan bangsa Barat di kawasan itu yaitu setelah ditemukan jalan laut ke India oleh Vasco da Gama pada tahun 1498. Maka mereka menemukan kebudayaan india, sebagai hasil telaahnya terhadap naskah-naskah India, bagian mutakhir lebih dahulu , mula-mula mereka mengetahui adanya bahasa-bahasa daerah seperti bahasa Gujarati, bahasa Bengali pada abad-abad sebelum abad ke-19 mengetahui tentang bahasa Sansekerta dan pada akhir abad ke-19 baru dapat ditemukan kitab-kitab weda. Dengan telah dilakukan studi terhadap weda dan kitab-kitab agama budha pada abad ke-19 dari segi materinya perkembangan filologi di india telah dipandang lengkap..Pada awal abad ke-20 beribu-ribu naskah telah tersimpan di berbagai pusat kebudayaan dari kesastraan india, di India dan di Eropa.

3.4 Filologi di Kawasan Nusantara

Nusantara adalah kawasan yang termasuk Asia Tenggara. Kawasan ini sebagai kawasan Asia pada umumnya, sejak kurun waktu yang lama memiliki peradaban yang tinggi dan mewariskan kebudayaan kepada anak keturunanya melalui berbagai media antara lain media tulisan yang berupa naskah-naskah.

3.4.1 Naskah Nusantara dan Pedagang Barat

Hasrat mengkaji naskah-naskah Nusantara mulai timbul dengan kehadiran bangsa Barat di kawasan ini pada abad ke-16. Pertama-tama yang mengetahui mengenai adanya naskah-naskah lama itu adalah para pedagang. Mereka menilai naskah-naskah itu merupakan barang dagangan yang mendatangkan untung besar seperti yang mereka kenal di benua Eropa. Setelah mendapatkan naskah mereka nenjualnya kepada lembaga yang telah mengumpulkan banyak naskah-naskah. Pada zaman VOC usaha mempelajari bahasa di Nusantara terbatas pada bahasa melayu.

3.4.2 Telaah Naskah Nusantara oleh Para Penginjil

Seorang penginjil terkenal menaruh minat  kepada naskah-naskah Melayu adalah Dr. Melchior Leijdecker. Terjemahan Beibel olehnya baru terbit setelah dia meninggaal karena diperlukan penyempurnaan dan revisi yang cukup. Pada tahun 1835 jilid pertama terjemahan itu diterbitkan. Pada tahun 1691 atas perintah Dewan Gereja Belanda Leidjcker menyusun terjemahan beibel dalam bahasa Melayu tinggi. Pada umumnya tenaga yang dikirim oleh belanda yaitu penginjil ini tidak melakukan telaah filologi terhadap naskah-naskah yang dibaca dan dipelajari bahasanya. Mereka sering juga menerjemahkan naskah-naskah itu ke dalam bahasa asing, terutama bahas belanda. Sesuai dengan teori filologi bahwa sastra lisan termasuk kajian filologi maka diantara penginjil itu ada yang mengkaji sastra lisan daerah yang didatanginya karena kelompok etnis daerah itu belum mengenal huruf hingga budayanya masih tersimpan dalam bentuk lisan seperti daerah Toraja oleh N. Adrian Kruijt.

3.4.3 Kegiatan Filologi terhadap Naskah Nusantara

Kajian ahli filologi terhadap naskah-naskah Nusantara bertujuan untuk menyunting, membahas serta menganalisisnya atau untuk kedua-duanya. Pada taraf awal kajian terhadap naskah-naskah uti terutama untuk tujuan penyuntingan. Oleh karena tenaga yang masih terbatas maka kegiatan itu diarahkan untuk naskah Jawa dan Melayu. Hasil suntingan pada umumnya berupa penyajian teks dalam huruf aslinya, ialah huruf Jawa, huruf pegon atau huruf jawi. Kemudian hasil penyuntingan ini diterbitkan. Di samping penerbitan suntingan-suntingan naskah banyak dilakukan telaah naskah untuk tujuan pehasan isinya yang ditinjau dari berbagai disiplin. Pada periode mutakhir, mulai dirintis telaah naskah Nusantara dengan analisis berdasarkan ilmu sastra(Barat) misalnya analisis struktur dan amanat terhadap naskah hikayat Sri Rama dikerjakan oleh Achadiati Ikram berjudul Hikayat Sri Rama Suntingan Naskah Disertai Telaah Amanat dan struktur(1980).
Kajian filologi terhadap naskah-naskah Nusantara yang sebagian telah diutarakan sebelumnya, telah mendorong berbagai kegiatan ilmiah yang hasilnya telah dimanfaatkan oleh berbagai disiplin, terutama disiplin humaniora dan disiplin ilmi-ilmu social. Semua kegiatan itu telah memenuhi tujuan ilmu filologi yaitu melalui telaah naskah-naskah dapat membuka kebudayaan bangsa dan telah mengankat nilai-nilai luhur yang disimpan didalamnya.



Bab IV TEORI FILOLOGI DAN PENERAPANYA

4.1 Masalah Naskah - Teks  

4.1.1 Pengerian Teks

Naskah adalah benda konkret yang dapat dilihat atau dipegang.


4.1.2 Beda Naskah dan Prasasti
Naskah dan prasasti, dapat dicatat beberapa perbedaan:
1. Naskah pada umumnya berupa buku atau bahan tulisan tangan,prasasti berupa tulisan tangan pada batu (andesit, berponis, batu putih, logam dan lain lain) 
2. naskah pada umumnya panjang, karena memuat cerita lengkap. Prasasti pada umumnya pendek karena memuat soal-soal ringkas saja seperti asal-usul raja dari dewa(Airlangga dari Dewa Wisnu dalam prasasti kalkuta)
3. Naskah pada umumnya bersifat anonim dan tidak berangka tahun. Prasasti sering menyebut nama penulisnya dan ada kalanya memuat angka tahun yang ditulis dengan angka atau sengkalan.
4. Naskah yang paling tua Tjandra-karana berasal kira-kira dari abad ke-8. Prasasti yang paling tua berasal kira-kira dari abad ke-4 (prasasti Kutai).


4.1.1.2 Kodikologi

Kodikologi adalah ilmu kodeks. Kodeks adalah bahan tulisan tangan. Kodikologi mempelajari seluk beluk atau semua aspek naskah antara lain bahan, umur, tempat penulisan, dan perkiraan penulis naskah.    Teks bersih yang di tulis pengarang disebut otograf. Sedangkan salinan bersih oleh orang-orang lain disebut apograf. 

4.1.2 Pengertian Teks

Teks artinya kandungan atau muatan naskah, sesuatu yang abstrak yang hanya dapat dibayangkan saja. Perbedaan anatara naskah dan teks menjadi jelas apabila terdapat naskah yang muda tetapi mengandung teks yang tua.

4.1.2.1 Tekstologi

Ilmu yang mempelajari seluk beluk teks disebut tekstologi.prinsip tekstologi antara lain.
1. Tekstologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari sejarah teks suatu karya.
2. Penelitian teks harus didahulukan dari penyuntingannya.
3. Edisi teks harus menggambarkan  sejarahnya.
4. Tidak ada kenyataan tekstologi tanpa penjelasannya.
5  Secara matodis perubahan yang diadakan secara sadar dalam sebuah teks harus didahulukan daripada perubahan mekanis misalnya kekeliruan secara tidak sadar oleh seorang penyalin.
6. Teks harus diteliti sebagai keseluruhan.
7. Bahan-bahan yang mengiringi sebuah teks harus diikutsertakan dalam penelitian.
8. perlu diteliti pemantulan sejarah teks sebuah karya dalam teks-teks dan monument sastra lain.
9. Pekerjaan seorang penyalin dan kegiatan scriptoria-skriptoria lain tertentu harus diteliti secara menyeluruh.
10.Rekonstruksi teks tidak dapat menggantikan teks yang diturunkan dalam naskah-naskah.

4.1.2.2 Terjadinya Teks
Menurut de Haan (1973) mengenai terjadinya teks ada beberaap kemungkinan :
1. Aslinya hanya ada dalam ingatan pengarang atau pengelola cerita.
2. Aslinya adalah teks tertulis yang lebih kurang merupakan keramgka yang masih memungkinkan atau memerlukan kebebasan seni.
3. Aslinya merupakan teks yang tidak menginginkan kebebasan dalam pembawaannya karena pengarang telah menentukan pilihan kata, dan komposisi untuk memenuhi maksud tertentu yang ketat dalam bentuk literatur itu.

 4.1.2.3 Teks Tulisan - Lisan

Antara teks tulisan dan lisan tidak ada perbedaan yang tegas. Dalam sastra melayu hikayat dan syair di bacakan keras-keras kepada pendengar. Hal ini berarti bahwa hikayat dan syair yang sudah dibukukan dari cerita-cerita lisan dan disesuaikan dengan sastra tulis tidak dibaca seorang diri, tetapi dibaca bersama-sama. Kebiasaan ini berhubungan erat dengan ciri umum sastra Indonesia, terutama sastra lisan merupakan milik bersama. Ciri ini berlaku pula bagi teks dalam naskah-naskah yang sudah ratusan tahun tuanya.

4.1.3 Penyalinan

Rangkaian penurunan yang dilewati oleh teks yang turun temurun disebut tradisi. Naskah diperbanyak karena orang ingin memiliki naskah itu sendiri, mungkin karena naskah asli sudah rusak dimakam zaman. Akibat penyalinan, terjadilah beberapa atau bahkan banyak naskah mengenai suatu cerita. Dalam penyalinan bekali-kali itu, tidak tertutup kemungkinan timbulnya berbagai kesalahan atau perubahan.
Disinilah tugas utama filologi untuk memurnikan teks dengan mengadakan kritik terhadap teks. Tujuan kritik teks adalah menghasilkan suatu teks yang mendekati aslinya.

4.1.4 Penentuan Umur

Umur naskah hanya dapat dirunut berdasrkan keterangan dari dalam dan keterangan dari luar naskah itu sendiri. Ada kalanya penyalin memberi catatan pada akhir teks mengenai bilamana dan dimana teks itu selesai disalin. Apabila kolofon tidak ada kertas bahan naskah sering memperlihatkan tanda atau lambang pabrik yang membuat kertas itu.tanda itu disebut cap air. Dengan memakai daftar cap dapat diketahui pada tahun berapa kertas itu dibuat. Di samping itu, perlu diperhatikan catatan di sampul luar baik depan maupun belakang.

4.2 Kritik Teks

4.2.1 Pengertian Kritik Teks

 Kritik teks adalah suatu pengkajian teks untukmenghasilkan suatu teks yang mendekati aslinya.

4.2.2 Paleografi

Paleografi adalah ilmu macam-macam tulisan kuna. Ilmu ini mutlak untuk penelitian tulisan kuna. Tujuan paleografi yaitu:
1.Menjabarkan tulisan kuna karena sebahagian bahasa kuna sulit dibaca.
2.menempatkan berbagai peninggalan tertulis dalam rangka perkembangan umum                   tulisannya.


4.2.3 Transliterasi

Transliterasi artinya penggantian tulisan, huruf, huruf demi huruf, abjad yang satu ke abjad yang lain pada naskah sedangkan pada prasasti disebut transkripsi.

4.2.4 Perbandingan Teks

Dalam menghadapi naskah dalam jumlah yang banyak yang harus dilakukan untuk membandingkan naskah yaitu mengelompokannya dalam beberapa versi. Anggota dalam tiap-tiap kelompok dibandingkan. Kemudian ditentukan hubungan antara satu kelompok dan kelompok yang lain untuk memperoleh gambaran garis keturunan versi-versi dari naskah-naskah. Selanjutnya ditentukan metode kritik teks yang paling sesuai dengan hasil perbasndingan teks.

4.3  Metode Penelitian

4.3.1 Pencatatan dan Pengumpulan Naskah
    Apabila kita sudah menentukan untuk meneliti naskah maka kita harusmencatat naskah dan teks cetakan yang berjudul sama.

4.3.2 Metode Kritik Teks

4.3.2.1 Metode Intuitif

Metode ini dilakukan dengan mengambil naskah yang dianggap paling tua, kemudian naskah itu diperbaiki berdasarkan naskah lain dengan akal sehat, selera baik, dan pengetahuan luas.
4.3.2.2 Metode Gabungan

Dengan metode ini teks yang disunting  merupakan teks baru yang merupakan gabungan dari semua naskah yang ada.

4.3.2.3 Metode Landasan

Metode ini memuat varian-varian yang terdapat dalam naskah-naskah lain yang severs dalam aparat kritik, yaitu bahan pembanding yang menyertai penyajian suatu naskah.

4.3.2.5 Metode Edisi Naskah Tunggal

Apabila hanya ada naskah tunggal dari suatu tradisi sehingga perbandingan tidak mungkin dilakukan, dapat ditempuh dua jalan :
Pertama : edisi diplomatik, yaitu menerbitkan satu naskah seteliti-telitinya tanpa mengadakan perubahan.

Kedua    : edisi standar, yaitu menerbitkan naskah dengan membetulkan kesalahan-kesalahan kecil ketidakajegan, sedang ejaan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.

4.3.3 Susunan Stema
Metode stema ini tidak bebas dari berbagai masalah antara lain
            1. Metode ini pada dasarnya berdasarkan pilihan antara bacaan yang benar dan salah. Dalam prakteknya sulit menentukan pilihan itu.

2.pilihan antara dua hiparketip sering juga tidak mungkin karena keduanya dianggap baik.  




Bab V STUDI FILOLOGI BAGI PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN


    5.1 Filologi dan Kebudayaan

5.1.1 Pengertian Kebudayaan

Kebudayaan adalah kelompok adat kebiasaan, pikiran, kepercayaan, dam nilai yang turun temurn dipakai oleh masyarakat pada kurun waktu tertentu untuk menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap segala situasi yang sewaktu-waktu timbul, baik dalam kehidupan individu maupun dalam kehidupan masyarakat secara keseluruhan.

5.2 Filologi dan Kebudayaan Nusantara

Sastra daerah yang beraneka ragam mewarnai khazanah sastra Nusantara dan merupakan alat penunjang untuk memperkaya kesastraan Indonesia pada umumnya.
Kebudayaan Nusantara pada zaman dahulu berada dalam kondisi dan posisi yang belum mapan sehingga mudah menerima pengaruh dari luar. Kondisi mudah berubah itu erat hubungannya dengan pergerakan dunia pada ummnya. Solidaritas kebudayaan Nusantara pada waktu itu maru berada di tengah proses menerima dan member antara nilai-nilai masyarakat pada zaman dahulu dan sistem nilai yang baru.
Kebudayaan asli di Nusantara sebelumkedatangan kebudayaan hindu dikuasai oleh nilai-nilai agama dan nilai solidaritas yang sangat kuat dalam masyarakat. Orang India datang ke Nusantara dalam tiga gelombang yakni pada awal abad ke-4, ke8 sampai ke-9, dan abad ke-11. Selama bertahun-tahun kebudayaan Nusantar berada di bawah kekuasaan kebudayaan Hindu dan Budha sebelum masuknya agama Islam.
Agama Islam datang ke daerah kebudayaan Nusantara pada abad ke-13 dibawa oleh pedagang-pedagang india yang kebanyakan pengikut berbagai tarekat seperti Qodiriah, Naqsyabandyah, dan beberapa tarekat kecil lain yang berpusat pada seorang guru tasawuf  atau syekh yang menyebarkan Islam di Nusantara. Di samping menyebarkan agama Islam mereka juga menceritakan kebudayaan islam.
 Kedatangan Islam di kepulauan Nusantara merupakan ciri zaman baru dalam sejarah yang dengan tegas membawa rasionalisme dan pengetahuan akliah serta menegaskan system masyarakat berdasarkan kebebasan orang perorangan, keadilan , dan kemuliaan kepribadian manusia. Semangat rasionalisme dan intelektualisme islam tersebar dikalangan istana dan keraton sampai kepada rakyat jelata. Hal itu dapat di temukan bukti-bukti dari naskah-naskah yang berisi filsafat dan metafisika yang khusus ditulis untuk kepentingan umum.
Selain sastra keagamaan,ada juga sastra lama melayu yang berupa saduran atau terjemahan dari bahasa Arab yaitu hikayat para Nabi sebelum Nabi Muhammad, hikayat Nabi Muhammad dan para sahabatnya, legenda Islam, dan pahlawan Islam

5.2.4 Filologi sebagai Penggali Budaya Masa Lampau

Mempelajari sastra lama tidak saja rapat hubungannya dengan mempelajari sejarah peradaban bangsa pemilik sastra itu, tatapi dapat dikatakan memasuki dan hidup dalam maasyarakat pemilik sastra tersebut. Orang akan mengetahui masyarakat zaman silam,perkembangan kejiwaanya, perasaan, pikiran, dan gagasan masyarakat masa itu melalui ungkapan pengarangnya, sehingga dengan mempelajari sastra lama orang dapat memperluas dan memperkaya pandangan hidupnya.

5.3.1 Politik Kebudayaan

Sumber Internasional yang mempengaruhi Kebudayaan Indonesia amat luas lingkungannya karena meliputi seluruh kebudayaan yang ada di dunia luar Indonesia. Pada umumnya, sumber-sumber internasional yang berpengaruh itu adalah kebudayaan yang kuat dan agresif.

5.3.2 Peranan Budaya Masa Lampau dalam Pengembangan Kebudayaan

Kebudayaan nasional adalah kebudayaan suatu bangsa sebagai strategi untuk menjamin eksistensi bangsa, mendinamisasikan kehidupan bangsa, membentuk dan mengembangkan kepribadian bangsa, menata kehidupan bangsa. Dalam hal ini, budaya daerah (masa lampau) memegang peranan penting dalam memantapkan dan menunjang pengembangan kebudayaan nasional Indonesia untuk memperkuat identitas kebangsaannya.

5.3.3 Filologi sebagai Penggali Inspirasi Pengembangan Kebudayaan

Mempelajari sejarah memiliki arti yang sangat penting dalam kehidupan. Ada tiga manfaatnya yaitu:
1. Memberikan pendidikan.
2. Memberikan ilham atau inspirasi. 
3. Memberikan kesenangan atau pleasure
Ada sejumlah naskah Nusantara yang mengandung fakta sejarah yang oleh pengarangnya diolah sedemikian rupa sehinggamenjadi suatu sajian yang berupa rekaan yang menarik , misalnya Sejarah Melayu, Hikayat Hang Tuah, dan Babad Tanah Jawi.
Sebagai contoh penggalian naskah Negarakertagama penting bagi pembangunan republik Indonesia di masakini karena Negarakertagama berisi sejarah pembangunan kerajaan Majapahit di masa lampau. Sejarah masa lampau merupakan senjata ampuh yang dapat digunakan intuk menghilangkan hambatan-hambatan dalam perjuangan kebudayaan untuk membentuka kepribadian serta masa depan bangsa. Kerajaan Majapahit di bawah pimpinan Gajah Mada telah dapat mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara. Pembangunan kerajaan Majapahit pada masa lampau itu ada titik pertemuan dengan pembangunan Negara Kesatuan Rpublik Indonesia di masa kini meskipun kondisinya berbeda.





























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar